Sebuah Pilihan
Hari ini aku sudah memutuskan untuk tidak berhenti (dulu) dari pekerjaan formal di sebuah perusahaan swasta di Surabaya, setelah pada minggu lalu sempat bilang ke bos untuk resign dan full time menjadi entrepreneur. Setelah berpikir dalam-dalam dan minta saran orang-orang terdekat yang 95% menyarankan untuk tidak berhenti (dulu)…termasuk kakak yang ikut-ikutan kirim email :
Ass.Wr.Wb Dear aris Aku ditelpun mama katanya sama bosmu kamu disuruh mikir lagi soal pengunduran dirimu. Aku nggak tau kondisi di kantormu, jadi tdk bijak kalau mendesakmu mengambil keputusan tertentu. Pada dasarnya aku setuju2 aja kamu jadi entrepreneur tapi itu bukan hal yang mudah loh. Kalau ditempat kerja yang sekarang ternyata prospeknya bagus apalagi bosnya mendukung kenapa tidak dijalani aja, kan Cuma 5 hari kerja, sisanya buat bisnis, internetan bisa malam hari, lagian berdiri di dua kuadran an lebiah aman ( inget buku cash flow quadran ). Inget kita kerja bukan sekadar mencari duit, kalau Cuma mencari duit, apa bedanya sama orang kisten, komunis dsbnya. Kita mencari duit sebagai jalan masuk surga, dengan duit lebih memudahkan kita berbuat baik. Ada cerita menarik, dikisahkan di akhirat nanti ada 3 orang yang sedang ditanyain sama malaikat yaitu seorang yang mati syahid ( mujahid ), seorang ulama, seorang jutawan. Sang mujahid disuruh masuk surga karena telah mengorbankan jiwanya bagi Islam tapi si mujahid menolak karena merasa ada yang lebih berhak masuk surga lebih dulu yaitu gurunya,sang ulama yang memberinya ilmu hingga berkembang imannya sehingga bisa erani maju perang hingga mati. Kemudian sang malaikat menyuruh si ulama untuk masuk surga lebih dulu, tapi lagi-lagi si ulama juga menolak masuk surga, karena merasa ada yang lebih pantas darinya. Ternyata si ulamamemberitahu malaikat bahwa sang jutawan lah yang harusnya masuk surga lebih dulu karena berkat uang sedekahnya pada ulama, sang ulama dapat berdakwah dengan leluasa. Begitulah akhirnya sang jutawan lah yang masuk surga lebih dulu, yang kalau dipikir-pikir keberanian dan ilmunya mungkin tidak sebaik si mujahid dan sang ulama, tapi berkat hartanya bisa mencetak mujahid-mujahid pemberani, didikan sang ulama.Jadi bekerjalah demi surgamu, mengenai mundur atau tidak, kamu yang lebih tahu, tapi kalau gajimu naik kenapa tidak mencoba bertahan, and bekerja lebih giat, seperti kata motivator : bekerja lah melebihi gajimu, karena nanti pasti ada balasannya.Oce Wassalam.
Jadi sepertinya saya sudah punya jawaban buat polling yang diadain di forum adsense-sby.com setidaknya untuk diri sendiri dan untuk saat ini, yaitu coba jalan dua-duanya